Membedah Delapan Blok Migas yang Akan Mendongkrak Aset Pertamina

“Kami kasih previledge dengan kontrak-kontrak blok migas,” kata Pelaksana tugas Direktur Jenderal Migas, Ego Syahrial.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menugaskan PT Pertamina (Persero) untuk mengelola delapan blok minyak dan gas bumi (migas) yang akan habis kontrak tahun ini. Delapan blok ini berpotensi menambah aset Pertamina.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Ego Syahrial pernah mengatakan penugasan itu merupakan bentuk perhatian pemerintah kepada PT Pertamina (Persero), terutama dari segi keuangan. Pertamina memperoleh delapan blok ini secara gratis. Mereka hanya membayar bonus tanda tangan dan menyerahkan komitmen investasi tiga tahun pertama.

Penugasan ini juga untuk mengkompensasi kebijakan harga BBM yang selama ini tidak naik. “Kami kasih previledge dengan kontrak-kontrak blok migas,” kata dia di rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR Jakarta, 18 Januari lalu.

Setelah kontrak blok-blok itu berakhir, maka pada penandatanganan kontrak baru akan menggunakan skema bagi hasil gross split, kecuali Blok Tengah karena akan digabung dengan kontrak Blok Mahakam. Delapan blok ini pun memiliki karakteristik berbeda.

Berikut ini profil delapan blok migas yang akan dikuasai Pertamina tahun ini:

1. Blok Sanga-Sanga

Blok yang terletak di Kalimantan Timur ini memiliki luas 4.043 kilometer persegi (km2). Kontrak blok ini pertama kali ditandatangani pada 8 Agustus 1968 dengan masa kontrak 30 tahun. Operator blok ini adalah Virginia Indonesia Co. LLC atau yang lebih dikenal VICO Indonesia.

Tahun 1990 kontrak pertama Sanga-Sanga berakhir. VICO mendapat perpanjangan kontrak selama 20 tahun dan akan berakhir pada 7 Agustus 2018. Artinya, pada Agustus nanti blok ini genap beroperasi setengah abad.

Saat ini, VICO Indonesia memegang hak pengelolaan 7,50 %, lalu sisanya dimiliki beberapa kontraktor seperti Virginia International Co. LLC. sebesar 15.63 % dan ENI 26,25 % -setelah mengakuisisi Lasmo Sanga-Sanga Ltd-. Lalu ada Universe Gas and Oil Comp. Ltd. 4.38 %, Opic Oil Houston Ltd 20 %, dan Saka Energi 26,25 %. Saka baru memiliki hak kelola setelah mengakuisisi BP pada 2016 lalu.

Sejak 2010, produksi blok ini terus menurun. Pada 1 Desember 2010, produksi gas bisa mencapai 459 mmscfd. Namun, tahun 2017, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bahkan tidak memasukkan Sanga-sanga sebagai 10 besar produksi siap jual (lifting) gas. Padahal lifting terendah dari 10 produsen terbesar itu hanya 201 MMSCFD.

Meski begitu, tahun lalu lifting minyak Sanga-Sanga berhasil menyentuh 14 ribu bph. Ini lebih besar dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 sebesar 13,4 ribu bph. Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2015, cadangan minyak yang ada di blok itu 13.232 MTSB. Sedangkan cadangan gas 448,96 BSCF.

2. Blok Attaka

Blok ini terletak di lepas pantai (offshore) di Selat Makassar, Kalimantan Timur dengan luas 145 km2. Operator Blok Attaka adalah Inpex Corporation dan Chevron Indonesia Company dengan hak kelola masing-masing 50 %.

Data Kementerian Energi menunjukkan Blok Attaka ditemukan pada 1970. Pada 1991, kontrak blok ini diperpanjang 20 tahun hingga 31 Desember 2017 lalu. Setelah berakhir Inpex dan Chevron mengembalikan blok tersebut. Namun, Kementerian Energi masih menugaskan Chevron dan Pertamina mengelola blok ini sampai 24 Oktober 2018. Ini karena Blok Attaka akan digabung dengan East Kalimantan.

Dalam 10 bulan itu, Pertamina mengeluarkan investasi sekitar US$ 7 juta atau setara Rp 93 miliar. Biaya tersebut dialokasikan untuk kegiatan operasi seperti lifting dan pemeliharaan di blok tersebut. Adapun produksi Blok Attaka pada 2015 mencapai 4,9 ribu barel setara minyak per hari.

3. Blok East Kalimantan

Blok ini pertama kali dioperasikan PT Unocal Indonesia Company – sekarang bernama PT Chevron Indonesia Company- pada Oktober 1968. Saat ini, operator Blok East Kalimantan masih Chevron dengan hak kelola 92,50 %. Perusahaan asal Amerika Serikat ini bermitra dengan Inpex sebesar 7,50 %.

Kontrak blok ini kadaluarsa pada 1998. Namun, pemerintah memperpanjang selama 20 tahun sampai 24 Oktober 2018. Blok ini memiliki luas 2.796 km2.

Cadangan minyak blok ini ditemukan di beberapa lapangan seperti Sepinggan, Melahin, Kerindingan, Yakin, Serang, Pantai, Seguni, dan Santan. Sepinggan dan Yakin adalah lapangan andalan blok ini.

Gas dari Melahin, Kerindingan, Serang, dan Santan juga dikirim ke Kilang Bontang atau ke ekstraksi pencairan (LEX). Sementara itu minyak dan gas dari Sepinggan, Yakin, dan Senturian didistribusikan ke kilang Pertamina di Balikpapan dan juga untuk ekspor.

Puncak produksi lapangan Sepinggan terjadi tahun 1991 dengan volume 26.600 bph. Sedangkan puncak produksi Lapangan Yakin sebesar 13.200 bph pada tahun 1986. Namun produksi East Kalimantan saat ini mulai menurun. Tahun 2017, lifting minyak blok tersebut mencapai 17,8 ribu bph.

Data dari Kementerian ESDM tahun 2015, cadangan minyak di blok ini mencapai 63.580 MTSB. Sedangkan gas 2.317,87BSCF.

4. Blok Tengah

Blok ini memiliki luas 1.534 km2 dan terletak di lepas pantai di Kalimantan Timur. Lokasi blok ini berdekatan dengan Blok Mahakam, makanya pemerintah pun menyetujui penggabungan dua blok ini.

Kontrak Blok Tengah ditandatangani 5 Oktober 1988 untuk jangka waktu 30 tahun. Blok ini mulai berproduksi 27 November 2007. Tahun 2016, produksi blok ini mencapai  3,5 ribu barel setara minyak per hari (bsmph).

Kontraktor di Blok Tengah terdiri dari  anak usaha PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dengan hak kelola sebesar 50 %. Selain itu ada Total E&P Indonesie sebesar 25 % dan Indonesia Petroleum Exploration sebesar 25 %. Namun saat ini blok Tengah masih dioperatori oleh Total hingga kontrak berakhir.

5. Blok South East Sumatera (SES)

Blok ini dimenangkan oleh Independent Indonesian American Petroleum Co. (IIAPCO) pada September 1968. Setelah itu mengalami sejumlah akuisisi, dan akhirnya dimiliki oleh perusahaan migas asal Tiongkok, CNOOC SES Ltd yang bertindak sebagai operator. Blok yang berada di lepas pantai Lampung dan Jakarta ini akan berakhir kontrak pada 5 September 2018.

CNOOC menguasai hak kelola 65,54 %. Ada juga PHE Sumatera Ltd sebesar 13,07 %, KNOC Sumatera sebesar 8,91 %, Talisman UK (South East Sumatera) Resources sebesar 7.48 %, dan Risco Energy Pte. Ltd sebesar 5 %

Blok SES memiliki 34 lapangan produksi dengan lebih dari 400 sumur produksi. Minyak mentah yang diproduksi dari blok ini dialirkan ke pembangkit listrik berbahan bakar gas milik PT Perusahaan Listrik Negara/PLN (Persero) di Cilegon, Banten. Blok Ini telah menghasilkan lebih dari satu miliar barel minyak sejak 1971.

Pada 2015 produksi SES mencapai 40,7 ribu (bsmph). Namun dua tahun kemudian produksi blok ini menurun. Ini terlihat dari realisasi produksi siap jual (lifting) blok SES pada 2017 yang hanya mencapai 31,5 ribu bph.

Cadangan minyak yang tercatat di Kementerian ESDM pada tahun 2015 sebesar 1.000 MTSB. Adapun cadangan gasnya 38,10 BSCF.

6. North Sumatera Offshore (NSO)

Sejak Oktober 1968 blok ini dikelola Mobil Corporation-sekarang bernama ExxonMobil. NSO pernah diperpanjang sampai 15 Oktober 2018. Namun tahun 2015, ExxonMobil menjual 100 % aset Blok NSO ke Pertamina.

Area blok NSO berada di pesisir timur laut Sumatera dengan luas 3.362 km persegi. Blok NSO mulai berproduksi sejak 1996 dengan puncaknya 400 juta kaki kubik per hari (mmscfd).

Merujuk laporan tahunan PHE 2016, produksi kondensat pada Blok NSO mencapai 0,11 ribu barel per hari (bph) atau 77 % dari target 2016 yang sebesar 0,15 ribu bopd. Selain itu produksi gas mencapai 56,8 mmscfd atau 219% dari target 2016 sebesar 26 mmscfd.

Tahun 2015, cadangan minyak di blok NSO sebesar 272 MTSB. Kemudian cadangan gasnya 92 BSCF.

7. Blok Ogan Komering

Luas blok di daratan Sumatera Selatan ini mencapai 1.155 km persegi. Kontrak blok ini pertama kali diteken 29 Februari 1998. Setelah beberapa akuisisi blok tersebut sekarang dioperasikan oleh JOB Pertamina – Talisman (Ogan Komering) sampai 28 Februari 2018. Di blok ini Talisman dan PHE memiliki hak kelola masing-masing 50 %.

Tahun 1998, produksi minyak blok ini pernah mencapai puncaknya sebesar 20 ribu bph. Namun tahun 2016 produksi blok ini mulai menurun. Jika mengacu laporan keuangan PHE 2016, produksi migas Ogan Komering hanya 2,3 ribu bsmph. Namun capaian itu meningkat jika dibandingkan tahun 2015 yang hanya 1,9 ribu bsmph.

Adapun cadangan minyak tahun 2015 sebesar 3.191 MTSB. Sedangkan cadangan gas 18,80 BSCF.

8. Blok Tuban

Kontrak yang berada di daratan (onshore) Jawa Timur ini, pertama kali ditandatangani 29 Februari 1988 dengan jangka waktu 30 tahun. Di blok ini, Pertamina dan PetroChina membentuk badan operasi bersama bernama Joint Operating Body Pertamina PetroChina East Java (JOB PPEJ).

Saat ini blok Tuban memiliki dua ladang minyak penghasil yaitu Mudi dan Sukowati. Selain minyak, ada dua ladang gas produksi yakni Lengowangi dan Bungoh Selatan.

Minyak yang diproduksi dari blok ini dijual ke China Oil. Sedangkan gas tersebut dipasok ke PT Petrokimia Gresik. Adapun gas buang (flare gas) dari ladang minyak blok ini dijual ke PT Gasuma Corporindo. Area blok Tuban meliputi 1.478 km persegi, blok ini terletak di darat di provinsi Jawa Timur.

Blok Tuban juga merupakan blok tua yang mengalami penurunan produksi.  Mengacu laporan keuangan PHE 2016, tahun 2016 produksi migas blok Tuban mencapai 1,1 ribu bsmph. Turun dibandingkan tahun 2015 yang mencapai 1,4 ribu bsmph.

Terkait pengelolaan Blok Ogan Komering dan Tuban, pemerintah menyiapkan perpanjangan kontrak sementara. Ini untuk mengantisipasi jika Pertamina terlambat membalas surat dari Kementerian ESDM. Apalagi, kontrak dua blok itu berakhir  berbarengan pada  28 Februari 2018.

Cadangan minyak yang ada sampai tahun 2015 mencapai 27.884 MTSB. Adapun cadangan gasnya 20,60 BSCF.

sumber: katadata.co.id

Leave a Comment

Your email address will not be published.